Nur Handiah Sang Ratu Kerang Sukses Usaha di Bidang Kerajinan

  • 4 min read
  • Des 27, 2021

Nur menyampaikan bahwa beliau harus jatuh bangun dan berdarah-darah untuk sampai ke titik sukses yang beliau nikmati saat ini. Prinsipnya tidak boleh ada kata menyerah.

Nur Handiah Jaime Taguba merupakan wanita kelahiran Banyumas, 9 Maret 1961 yang pernah meraih beberapa penghargaan atas usahanya. Beliau berjuluk “Ratu Kerang” dari Cirebon karena usahanya memanfaatkan limbah kerang menjadi barang-barang dekoratif yang mewah dan glamour.

Kisah hidupnya menjadi inspirasi bagi banyak orang khususnya kaum hawa. Usaha yang beliau rintis selama 20 tahun ini sudah berbuah manis dan menjadi impian banyak orang yang ingin menikmati kesuksesan sepertinya.

 

Awal Mula Merintis

Kita tahu banyak usaha veteran saat ini yang bermula pada peristiwa krisis moneter (kirsmon) tahun 1998. Begitu pula usaha milik Nur Handiah ini. Beliau merasakan bagaimana banyak perusahaan yang mengalami kebangkrutan dan memutuskan hubungan kerja (PHK) karyawannya, serta itu terjadi di banyak tempat secara merata.

Mulai dari tetangganya sendiri, banyak yang ambruk dari segi ekonominya akibat PHK. Saat itu Nur Handiah memang sedang menjalani karirnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kantor Syahbandar Indramayu, namun beliau merasakan kegetiran yang sama dan turut khawatir. Dari situlah Nur Handiah dan suaminya memutuskan untuk merintis usahanya.

Mendapat Tawaran Bisnis

Nur Handiah mempunyai suami yang berasal dari Filipina, Jaime Taguba. Saat itu suaminya mendapat tawaran dari temannya di Filipina untuk memasok kulit kerang simping. Meskipun awalnya mereka menolak, namun karena kondisi perekonomian yang sedang kurang baik ini membuatnya menerima tawaran tersebut.

Seiring berjalannya waktu, Nur Handiah menyadari bahwa kebutuhannya setiap saat selalu bertambah. Oleh karena itu mereka tertarik untuk melakukan sesuatu yang lebih lagi untuk memenuhi kebutuhannya.

Beralih Dari Pemasok Menjadi Pengrajin

Nur Handiah dan suaminya pergi ke Filipina untuk melihat tindak lanjut dari kerang yang mereka pasok, mereka penasaran. Ternyata kulit kerang yang mereka pasok tersebut dimanfaatkan untuk membuat kerajinan di Filipina hingga di ekspor ke beberapa negara. Dari sinilah mereka tertarik mengikuti jejak pengrajin tersebut.

Semula hanya berlaku sebagai pemasok kulit kerang, akhirnya Nur Handiah mencoba merangkai kulit kerang menjadi produk kerajinan seperti yang beliau jumpai di Filipina. Beliau mempekerjakan 60 pekerja yang merupakan tetangganya yang mengalami PHK pada perusahaan sebelumnya.

Beliau mempelajari banyak hal tentang kulit kerang dan cara pengolahannya menjadi kerajinan secara otodidak. Satu per satu hasil kerajinan tangannya pun berhasil beliau buat, seperti lampu gantung, kotak tisu, vas bunga, cermin, kaligrafi, dan sebagainya.

Tepatnya di tahun 2000, CV Multi Dimensi yang menjadi perusahaannya ini, didirikan.

Proses Berkembang

Lebih Laku di Pasar Ekspor

Kesuksesan mulai terlihat seiring bertambahnya produk kerajinan yang beliau kerjakan. Meskipun kurang mendapat respon positif dari pasar domestik, ternyata pasar ekspor lebih menjanjikan. Bahkan 98% produk yang berhasil beliau buat justru lebih laku untuk pasar ekspor. Beliau mengekspor ke berbagai negara di Asia, Eropa, dan Amerika.

Di dalam negeri, beliau juga mempunyai toko di Jogja, Bali, Jakarta, dan Cirebon. Namun dari semua toko itu, pembeli yang mendominasi tetap berasal dari turis asing.

Pengaruh Ekonomi Digital

Perkembangan teknologi saat ini membawa kita ke dalam era ekonomi digital. Nur Handiah juga mengakui bahwa ekonomi digital ini memberikan pengaruh positif pada usahanya. Pasar lokal yang semula sepi peminat, sekarang mulai tumbuh.

Pelanggan lokal banyak memanfaatkan saluran digital untuk mendapatkan produk kerajinan karya Nur Handiah tersebut. Menurut Nur Handiah, saluran digital lebih interaktif dan memungkinkan konsumen untuk membeli kapan saja dan dimana saja, sehingga beliau tinggal memproduksi sesuai dengan permintaan pelanggan.

Memberdayakan Masyarakat

Showroom usahanya yang berjuluk Istana Kerang kini dikenal luas di internasional maupun nasional. Melalui perusahaannya, CV Multi Dimensi, Nur Handiah membina sejumlah desa sebagai plasma dari usahanya. Tidak melulu kerang simping, namun kulit kerang jenis lain juga bisa menjadi kerajinan dekoratif yang bernilai seni / artistik. Desa binaannya tidak hanya di Cirebon, namun di Bali, Bekasi, dan di daerah lain juga ada.

Memperoleh Bahan Baku

Nur Handiah merasa beruntung karena tinggal di negara yang kaya akan sumber daya laut, sehingga dalam memperoleh bahan baku menjadi cukup termudahkan walaupun tetap ada tantangan yang harus beliau hadapi, karena masih banyak masyarakat yang belum menyadari nilai jual kulit kerang, sehingga banyak kulit kerang terhampar begitu saja di pantai.

Beliau membangun jaringan bahan baku kulit kerang di seluruh pulau besar Nusantara, karena kebutuhan kulit kerang untuk produk kerajinan tersebut cukup banyak. Oleh sebab itu, pasokan kulit kerang juga harus terjamin untuk bisa memenuhi pesanan.

Nur Handiah berburu kulit kerang ke berbagai wilayah Nusantara, beliau turut mengedukasi masyarakat sekitar pantai untuk mengumpulkan dan mengolah kulit kerang tersebut.

Beliau juga harus memperhatikan harga kulit kerang tersebut, karena beliau juga pernah mengalami lonjakan harga bahan baku kulit kerang sebelum pameran dan setelah menerima banyak pesanan dari Rp.5.000,-/kg menjadi Rp.13.000,-/kg.

Belajar Bisnis

Soal berbisnis dengan para buyer juga menjadi sesuatu yang perlu Nur Handiah pelajari. Beliau terus memperhatikan informasi soal risiko transaksi dengan para buyer. Beliau menerapkan kebijakan dengan menahan dokumen pengiriman barang sebelum ada pembayaran lunas.

Bila ada keluhan barang rusak saat pengiriman seperti pecah atau retak, beliau meminta pengambilan beberapa barang rusak secara bersamaan, karena pengalaman beliau tertipu ketika pelanggan mengeluhkan barang rusak yang sebenarnya hanya 1, namun diambil gambar dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

Untuk desain baru, Nur Handiah juga menetapkan minimal order. Hal itu karena beliau pernah menerima pesanan desain baru yang ternyata hanya sebagai contoh sampel sebelum pembeli tersebut memesan ke perusahaan lain.

Produk Kerajinan

Nur Handiah melalui perusahaannya, CV Multi Dimensi, membuat beragam produk kerajinan dekorasi, seperti lampu gantung, kotak tisu, vas bunga, cermin, kaligrafi, dan sebagainya. Kerajinan tersebut terbuat dari kerang laut yang beliau kumpulan dan kemudian beliau produksi menjadi produk dekoratif.

Beliau mentransformasikan kulit kerang yang semula terhampar begitu saja menjadi produk yang cantik, mewah, dan terkesan glamour yang masyarakat luas belum berekspektasi akan hal tersebut sebelumnya. Sehingga tidak heran kalau Presiden Ke-6 dan Ke-7 Indonesia turut mengkoleksi hasil karyanya.

Penghasilan

Setiap bulan, pengiriman ke luar negeri bisa mencapai 4-5 kontainer dengan nilai hingga 1-2 miliar per bulan atau hingga belasan miliar per tahun. Penjualan ini banyak didominasi oleh pasar ekspor atau internasional.

Kapasitas Perusahaan

Seiring berkembangnya perusahaan, ribuan desain sudah beliau luncurkan, Nur Handiah memperluas perusahaannya semula dari 1.100 m2 dengan 60 pekerja menjadi 10.000 m2 dengan 300 karyawan tetap dan 200 karyawan lepas per tahun 2015. Kemudian per tahun 2021, perusahaan sudah berkembang berdiri di lahan 32.000 m2 dengan 3000 koleksi item dan ratusan pekerja.

Lingkup ekspor hingga saat ini mencapai 25 negara di dunia seperti Amerika, Perancis, Spanyol, Jerman, Italia, Jepang, Kolombia, dan lain-lain. Lebih dari 50 proyek dari Hotel, Vila, Restoran atau perumahan di dunia juga sudah mereka suplai.

Penghargaan

  1. Unique Product Award di Rumania (2005)
  2. Creative Economic Award Bekraf (2010)
  3. Indonesia Good Design Award (2011)
  4. Paramakarya Award (2013)

Penutup

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan mengenai Nur Handiah. Banyak pelajaran yang dapat kita ambil. Kondisi perekonomian bukan menjadi halangan untuk menjalani usaha, namun menjadi motivasi, peluang, dan kerja sama dengan berbagai pihak untuk turut bangkit kembali dari keterpurukan. Seperti halnya Diah Rahmalita, Nur Handiah menjadi Wanita Indonesia yang menyulap “sampah” menjadi uang dan menginspirasi banyak wanita-wanita lainnya. Semoga bermanfaat!

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.